Langkah ke 8 Sapto Satrio Mulyo Klapanunggal : Sejarah Kabupaten Bogor - Teras Klapanunggal

Bersama Membangun Kabupaten Bogor

Berbasis Kearifan Lokal

#PolitikTanpaMahar

Klapanunggal : Sejarah Kabupaten Bogor

Klapanunggal, (Klapanunggal) - Saat Bupati Demang Wartawangsa berusaha untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup dan kesejahteraan rakyat, dengan mengedepankan pemanfaatan bidang pertanian. Untuk itu, ia memerintahkan untuk menggali terusan dari Ciliwung ke Cimahpar, juga dari Nanggewer sampai ke Kalibaru/Kalimulya.

Awalnya penggalian tersebut rencananya untuk membuat terusan kali di sekitar pusat pemerintahan, tetapi pada tahun 1754 dilanjutkan hingga pusat pemerintahan yang terletak di Tanah Baru, yang kemudian dipindahkan ke Sukahati (Kampung Empang sekarang).

Dari sejarahnya, Kabupaten Bogor adalah salah satu wilayah yang menjadi pusat kerajaan tertua di Indonesia. Catatan Dinasti Sung di Cina dan prasasti yang ditemukan di Tempuran sungai Ciaruteun dengan sungai Cisadane, menjelaskan bahwa setidaknya pada paruh awal abad ke 5 M di wilayah ini telah ada sebuah bentuk Pemerintahan.

Dari catatan Dinasti Sung, tahun 430, 433, 434, 437, dan 452 Kerajaan Holotan mengirimkan utusannya ke Cina. Menurut sejarawan Prof. Dr Slamet Muljana dalam bukunya ' Dari Holotan ke Jayakarta' menyimpulkan Holotan adalah transliterasi Cina dari kata Aruteun, dan kerajaan Aruteun adalah salah satu kerajaan Hindu tertua di Pulau Jawa.

Prasasti Ciaruteun adalah bukti sejarah perpindahan kekuasaan, dari kerajaan Aruteun ke kerajaan Tarumanagara dibawah Raja Purnawarman, sekitar paruh waktu akhir sabad ke-5.

Prasasti-prasasti lainnya peninggalan Purnawarman adalah prasasti Kebon Kopi di Kecamatan Cibungbulang, Prasasti Jambu di Bukit Koleangkak (Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang), dan prasasti Lebak (di tengah sungai Cidanghiyang, Propinsi Banten).

Abad ke 6 dan ke 7, kerajaan Tarumanagara adalah penguasa tunggal  di wilayah Jawa Barat. Setelah Tarumanagara, atau pada abad-abad setelahnya, kerajaan terkenal yang pernah muncul di Tanah Pasundan (Jawa Barat) adalah Sunda, Pajajaran, Galuh, dan Kawali. Semuanya berada di wilayah Bogor dan sekitarnya.

Jadi jelas, bahwa perjalanan sejarah Kabupaten Bogor memiliki kaitan erat dengan zaman kerajaan yang pernah memerintah di wilayah tersebut. Salah satunya dengan Sri Baduga Maharaja yang dikenal sebagai raja yang mengawali zaman kerajaan Pajajaran, raja tersebut terkenal dengan ‘ajaran dari Leluhur yang menjunjung tinggi Kesejahteraan Rakyatnya’, dan secara berturut-turut tercatat dalam sejarah, adanya kerajaan-kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah tersebut, yakni :
  • Kerajaan Taruma Negara, diperintah oleh 12 orang raja. Berkuasa dari tahun 358 hingga tahun 669
  • Kerajaan Galuh, diperintah oleh 14 raja. Berkuasa dari tahun 516 hingga tahun 852
  • Kerajaan Sunda, diperintah oleh 28 raja. Berkuasa dari tahun 669 hingga tahun 1333
  • Kerajaan Kawali, diperintah oleh 6 orang raja dari tahun 1333 hingga 1482
  • Kerajaan Pajajaran, memerintah dari tahun 1482 hingga tahun 1579. Salah satu raja yang terkenal adalah Raja Sri Baduga Maharaja, yang mana upacara pelantikannya terkenal dengan upacara Kuwedabhakti, yang dilangsungkan pada tanggal 3 Juni 1482. Tanggal itulah kiranya yang kemudian ditetapkan sebagai hari Jadi Bogor yang secara resmi dikukuhkan melalui sidang pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor pada tanggal 26 Mei 1972.
Tahun 1975, Pemerintah Pusat (melalui Menteri Dalam Negeri) menginstruksikan bahwa Kabupaten Bogor harus memiliki Pusat Pemerintahan di wilayah Kabupaten sendiri, dan pindah dari Pusat Pemerintahan Kotamadya Bogor. Dengan dasar tersebut, pemerintah daerah Tingkat II Bogor mengadakan penelitian ke beberapa wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor, untuk dijadikan calon ibu kota sekaligus berperan sebagai pusat pemerintahan. Alternatif lokasi yang dipilih antara lain : wilayah Kecamatan Ciawi (Rancamaya), Leuwiliang, Parung dan Kecamatan Cibinong (Desa Tengah).

Dari penelitian tersebut, memutuskan bahwa yang diajukan ke pemerintah Pusat untuk mendapat persetujuan sebagai ibu kota adalah Rancamaya wilayah Kecamatan Ciawi. Pemerintah Pusat menilai, bahwa Rancamaya masih relatif dekat letaknya dengan pusat pemerintahan Kotamadya Bogor, dan dikhawatirkan akan masuk ke dalam rencana perluasan dan pengembangan wilayah Kotamadya Bogor.

Kemudian, atas petunjuk pemerintah Pusat agar pemerintah daerah Tingkat II Bogor mengambil salah satu alternatif wilayah dari hasil penelitian lainnya. Melalui sidang Pleno DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor tahun 1980, ditetapkan bahwa calon ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor terletak di Desa Tengah Kecamatan Cibinong.

Setelah mendapatkan hasil penetapan tersebut di atas, lalu calon ibu kota ini diusulkan kembali ke pemerintah Pusat,  dan mendapat persetujuan serta dikukuhkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1982, yang menegaskan bahwa ibu kota pusat pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor berkedudukan di Desa Tengah Kecamatan Cibinong.

Sejak saat itulah, dimulai rencana persiapan pembangunan pusat pemerintahan ibu kota Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor dan pada tanggal 5 Oktober 1985 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bogor pada saat itu.

Ada yang menarik dari Sejarah berdirinya Kabupaten Bogor, yakni adanya komitmen Penguasa untuk Mensejahterakan Rakyatnya.

Berangkat dari Pemikiran itulah, maka Sapto Satrio Mulyo mengembangkan Bogor Sehat (Sejahtera Aman Tentram). (IB). Foto  : Istimewa
Sapto Satrio Mulyo : Kembali ke Kearifan Lokal

Sebuah pola kehidupan peninggalan Leluhur kita yang banyak dilupakan. Sejatinya, Kearifan Lokal tidak bertolak belakang dengan Modernisasi, tetapi justru sebagai rel atau pijakan kemana arah Bangsa ini akan berlabuh dengan Sehat

Klapanunggal yang ber-Kearifan Lokal, pasti lebih maju, Sejahtera Aman Tentram

Bogor Sehat (Sejahtera, Aman dan Tentram )